Teungku di Anjong: Jembatan Ilmu antara Hadramaut dan Aceh
Dari Tarim, Hadramaut, Menuju Aceh Di antara ulama dari Hadramaut yang meninggalkan jejak mendalam di Aceh adalah Al-Habib Abu Bakar bin Husein Bilfaqih, yang…
Dari Tarim, Hadramaut, Menuju Aceh Di antara ulama dari Hadramaut yang meninggalkan jejak mendalam di Aceh adalah Al-Habib Abu Bakar bin Husein Bilfaqih, yang kemudian lebih dikenal masyarakat Aceh dengan nama Teungku di Anjong. Beliau dikenal sebagai ulama asal Tarim, Hadramaut, Yaman, dari keluarga Ba'alawi. Dalam tradisi keluarga dan sumber-sumber yang mencatat kehidupannya, beliau tumbuh dalam lingkungan ilmu dan tasawuf serta belajar kepada sejumlah ulama di Hadramaut. Salah satu guru yang disebut dalam kajian tentang beliau adalah Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih. Perjalanan Ilmu Sebelum Berdakwah Sebelum sampai ke Aceh, Teungku di Anjong bersama beberapa sahabatnya disebut melakukan perjalanan ke Makkah dan Madinah. Dalam riwayat yang berkembang di Aceh, beliau bersama dua sahabatnya—Habib Abdurrahman bin Mustafa Alaydrus dan Habib Syekh Al-Jufri—memperbanyak ibadah dan mengamalkan Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali. Memilih Aceh sebagai Tanah Dakwah Dalam riwayat yang berkembang, ketiga ulama tersebut kemudian mengambil jalan dakwah masing-masing. Habib Abdurrahman Alaydrus menuju Mesir, Habib Syekh Al-Jufri menuju Malabar, India, sementara Habib Abu Bakar Bilfaqih menetap di Aceh. Di sinilah perjalanan panjang Teungku di Anjong di Aceh dimulai. Ia memilih Peulanggahan, sebuah kawasan strategis di tepi Krueng Aceh yang sejak dahulu menjadi tempat persinggahan orang-orang yang melakukan perjalanan melalui Selat Malaka. Membangun manusia sebelum membangun lembaga Salah satu hal menarik dari kiprah Teungku di Anjong adalah bahwa dakwahnya tidak dimulai dari bangunan besar. Ia terlebih dahulu membangun rumah dan pusat pengajian, yang kemudian berkembang menjadi dayah. Dari tempat sederhana tersebut, masyarakat datang untuk belajar agama. Santri dari berbagai daerah Nusantara dan Semenanjung Melayu disebut datang menimba ilmu kepadanya. Di sinilah terlihat pola dakwah ulama Hadramaut: membangun manusia terlebih dahulu, kemudian membangun lembaga.…